Berbisnis dengan Tuhan
Priandono


lihat:

Contoh Isi






Saya tersenyum ketika membaca buku ini. Bukan menertawakan isi buku, tapi dari judulnya, telah memenuhi salah satu ‘rukun iman’ jurnalistik. Saya meyakini, penulis buku ini bukan orang biasa-biasa saja. Penulisnya tentu gemar membaca, membaca, dan membaca. Bisnis dengan Tuhan, mungkinkah? Kalau memaknai dengan kaca mata syariat, jawabnya tidak mungkin. Namun, penulis memilih judul demikian tentu berupaya mengajak kita untuk keluar dari bingkai syariat. Lalu kalau mungkin, bagaimana caranya? Sulit atau mudah? Bergantung. Relatif. Dari logika positivistik, ujung dari bisnis adalah ingin menjadi ‘kaya’. Bisnis dengan Tuhan, jawabnya sudah pasti konvergen. Dijamin bakal kaya. Hanya, arti ‘kaya’ bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Sama dengan cara orang memandang ‘sukses’. Kita percaya, hampir tidak ada manusia yang ingin hidup miskin dan sengsara. Semua tentu ingin kaya, bahagia, dan sejahtera. Toh, pada kenyataannya, jumlah orang miskin tetap jauh lebih banyak. Apakah sulit menjadi orang kaya? Apa butuh gelar doktor atau profesor untuk bisa kaya? Apakah kita tidak bisa menjadi kaya dengan cara halal, sehingga tidak harus menjadi koruptor dulu seperti banyak di berita itu? Kaya bukanlah akhir sebuah pencapaian. Sebab, seperti sedang bermain bola bekel, pemaknaan kaya terus bergerak. Karena itu, sebelum melangkah, cari arti kaya bagi diri kita sendiri. Nah, resep untuk bisa menjadi ‘kaya’ telah ditulis dengan cukup benderang dalam buku ini. Semoga membawa kemanfaatan untuk kita semua. Amin." - M. SHOLAHUDDIN, Jawa Pos.





Gedung Kompas-Gramedia Lantai 2
Jl Palmerah Barat 29 - 32
Jakarta Pusat - 10270
Telepon: +62-21-53650110, +62-21-53650111