Why? The Chrysanthemum and the Sword (Ruth Benedict)

Saat Perang Dunia II, Amerika Serikat bingung bagaimana mengontrol Jepang.

Spesifikasi:

  • Bagian: Komik
  • Kategori: Komik Pendidikan
  • Sub Kategori: Komik Pendidikan
  • Penulis: YeaRimDang
  • Editor: Retno Kristy
  • Sampul: Yubi

  • ISBN13/EAN: 9786020299396
  • SKU: 717020096
  • Harga: Rp110.000
  • Terbit: 6 Januari 2017
  • Kertas: HVS 100 gram
  • Halaman: 216
  • Dimensi: 18 x 24 cm
  • Berat: 510 gram
  • Pemesanan: cek lokapasar

Why? The Chrysanthemum and the Sword (Ruth Benedict)

Sinopsis

Hal ini dikarenakan tentara Jepang yang selama perang melakukan penyerangan hingga aksi bunuh diri tiba-tiba berubah sikap bersahabat kepada tentara Amerika setelah menjadi tawanan, sehingga inilah yang membuat Amerika tidak mengerti sikap orang-orang Jepang. Karena itulah pemerintah Amerika meminta bantuan penyelidikan tentang Jepang kepada Ruth Benedict yang merupakan seorang Antropolog. Hasil laporannya dinamakan "Patterns of Japanese Culture". Dan laporan ini dijadikan buku yang berjudul "The Chrysanthemum and The Sword". Banyak orang yang mengapresiasi Benedict yang telah berhasil mencatat secara detail tentang Jepang dan masyarakatnya dengan objektif.

Saat menulis laporan, Benedict meminta agar tidak melihat aktivitas orang-orang Jepang dari sudut pandang Amerika. Hal ini dikarenakan dia ingin dilihat secara alami seperti pandangan orang-orang negeri lain.

*Bunga seruni di Jepang merupakan bunga yang melambangkan keluarga kerajaan sehingga memberikan kesan serius dan elegan. Bunga seruni dalam "The Chrysanthemum and The Sword" mengibaratkan penampilan orang Jepang yang murni dan mengutamakan kasih sayang serta keindahan. Pedang memberikan kesan bahwa orang Jepang yang memberikan penghormatan terbaik bagi pahlawan yang gugur dalam perang, sehingga Benedict memberikan judul kepada hasil laporan penelitiannya dengan "The Chrysanthemum and The Sword" yang memiliki arti dualisme kepribadian orang Jepang yang menghormati pedang dan mencintai bunga seruni.

“The Chrysanthemum and The Sword” adalah buku yang merupakan hasil kumpulan laporan yang dibuat untuk memahami Jepang yang disebut ‘negara yang jauh walaupun dekat’ bagi Korea dari sudut pandang Amerika Serikat. Tindakan dan insiden yang diperlihatkan Jepang di situasi darurat saat Perang Dunia II bukan hal yang tidak bisa dipahami dan aneh bagi orang-orang dunia Barat, tetapi juga banyak tidak dipahami dan tidak diketahui bagi orang Korea yang dijajah oleh Jepang. Dengan membaca buku ini kita melihat kembali berbagai masalah yang berhubungan dengan sejarah Korea melalui sudut pandang ilmu sejarah dan akan menjadi pengalaman sangat berharga jika kita memiliki kesempatan yang dapat memahami perlahan berjalan waktu. Kita juga bisa menemukan kebenaran bahwa berbeda itu bukanlah hal yang buruk karena di dunia ini ada berbagai macam negara dan suku bangsa yang memiliki adat-istiadat yang berbeda pula. Ketika memahami dan mengetahui budaya, suku bangsa, dan negara lain dapat dilihat pentingnya sikap relativisme yang didapat dari pihak lawan sehingga tidak ada pemisahan dan superior. Sikap relativisme bukan berarti bebas mengartikan mulai dari pembagian yang tepat. Hal yang diharapkan sesuai dengan budaya orang Jepang harus diwujudkan dari sikap relativisme tetapi tentu tidak menerima begitu saja keistimewaan budaya Jepang menjadi pemicu terjadinya perang. Kita harus mencoba memikirkan sekali lagi dari proses menulis hingga poin yang bisa disebut efek buruk relativisme budaya ekstrem yang diakui dan dikemas dari sudut pandangan relativisme budaya hingga bagian yang menyakitkan dan mengabaikan nilai dasar seperti hak asasi, kehidupan, atau martabat manusia.

Buku ini merupakan buku yang direkomendasikan untuk mempelajari humanities classic.

 



Lihat Juga:



 

 

Lokapasar
Toko