Deradikalisasi Pemahaman Al Quran dan Hadis

Al-Qur'an dan hadis ibarat mata air yang tidak pernah kering.

Spesifikasi:

  • Bagian: Agama Dan Spiritualitas
  • Kategori: Islam
  • Penulis: Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
  • Editor: Irsan Asari
  • Sampul: Kasta Waisya

  • ISBN13/EAN: 9786020242088
  • SKU: 998141295
  • Harga: Rp83.800
  • Terbit: 14 April 2014
  • Kertas: Book Paper 55
  • Halaman: 456
  • Dimensi: 15 x 23 cm
  • Berat: 300 gram
  • Stok: tidak tersedia

Deradikalisasi Pemahaman Al Quran dan Hadis

Sinopsis

Keduanya sama-sama menjadi sumber pelepas dahaga bagi umat di saat kekeringan spiritualitas melanda. Secara teologis-normatif, Al-Qur'an dan hadis akan senantiasa menjadi rujukan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupannya di dunia. Sebagai sumber rujukan bagi umat Islam, Al-Qur'an dan hadis mengandung beragam aspek, mulai dari aspek akidah, ibadah, muamalah, jinyahi (hukum pidana) sampai aspek siysah (politik). Hal inilah yang mendasari pernyataan banyak ulama, bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara komprehensif, integral, dan holistik.

Mengamati aktivitas keagamaan umat muslim konteporer, terdapat kecenderungan dalam memahami Al-Qur'an dan hadis hanya secara tekstual dan terkesan rigid. Meskipun pemahaman secara tekstual dan literal terkadang tidak dapat dielakkan, namun model pemahaman tekstual dan literal pada gilirannya dapat melahirkan perilaku yang terkesan anarkis, tidak toleran, dan cenderung destriktif.

Ajaran jihad misalnya, secara pragmatis sering dipahami sebagai "perang suci" untuk melakukan penyerangan dan pemaksaan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Hal ini tentunya dianggap menodai wajah Islam yang ramah, santun, dan penuh kedamaian. Lebih jauh, akan timbul mispersepsi, serta akan menimbulkan cibiran dan citra negatif terhadap agama dan umat Islam secara keseluruhan.

Melihat realitas yang terjadi, adalah sebuah keniscayaan untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Sebagai langkah awal, perlu diupayakan pemahaman metodologi yang komprehensif dalam memahami teks Al-Qur'an dan sunah, misalnya dengan mempertimbangkan aspek asbb an-nuzl dan asbb al-wurd (sosio-historical background).

Upaya untuk mencapai pemahaman metodologi tersebut tidak berati bahwa metodologi tafsir yang dibangun oleh para ulama terdahulu tidak lagi relevan atau harus dipinggirkan. Upaya ini justru ingin memperteguh kembali warisan metodologi tafsir yang telah ada, dengan harapan dapat menjawab segala persoalan pada masa modern seperti sekarang.