Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur

Peace education (PE) sendiri telah menjadi gerakan global.

Spesifikasi:

  • Bagian: Humaniora
  • Kategori: Sosiologi
  • Sub Kategori: Sosiologi
  • Penulis: Ahmad Nurcholish
  • Editor: Chandra
  • Sampul: Wawan

  • ISBN13/EAN: 9786020275789
  • SKU: 715082114
  • Harga: Rp30.000
  • Terbit: 20 November 2015
  • Kertas: Book Paper 60
  • Halaman: 264
  • Dimensi: 14 x 21 cm
  • Berat: 168 gram
  • Stok: tidak tersedia

Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur

Sinopsis

Pada 1999, ribuan orang yang mewakili ratusan organisasi hadir dalam acara International Peace Conference di The Hague, Belanda. Dalam acara tersebut dicetuskan The Hague Appeal for Peace, yang menyerukan penghentian segala peperangan dan penyebarluasan budaya perdamaian. Salah satu hasil The Hague Appeal, yaitu pembentukan Global Peace Education Network guna mendukung aplikasi PE seluruh dunia.

Aplikasi PE tersebut sangat dibutuhkan sebab dalam beberapa dekade terakhir, ketegangan antarkelompok masyarakat, bahkan antarnegara, semakin meningkat di berbagai wilayah dunia. Perang, tiadanya rasa aman, terorisme, dan ketakutan pada proliferasi nuklir menghantui Timur Tengah, Anak Benua Asia, dan Semenanjung Korea. Salah satu kasus yang masih hangat adalah konflik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia. Ketegangan kedua negara ini menjadi perhatian sejumlah kalangan. Obama, Putin, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy, Presiden Prancis Francois Hollande, Perdana Menteri Inggris David Cameron, Kaselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Finlandia Sauli Niinist membahas ancaman perang yang ditengarai beberapa kalangan bisa menjadi pemicu Perang Dunia III ini.

Dalam konteks keindonesiaan, sosok yang cukup elaboratif dalam menggali nilai-nilai perdamaian dalam Islam adalah K.H. Abdurrahman Wahid. Mantan Ketua Umum PBNU dua periode ini tak hanya memberikan persepektif baru tentang pendidikan Islam, tetapi juga memberikan perhatian yang cukup terhadap upaya-upaya membangun perdamaian (peace-building), tak hanya dalam konteks keindonesian, tetapi juga di tingkat internasional. Kiprahnya dalam ranah kemanusiaan, demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian tak hanya diakui oleh masyarakat di Tanah Air, tetapi juga publik dan lembaga internasional di mancanegara.