Konflik Bersejarah: Bulan Sabit dan Swastika

Dalam historiografi Soviet dan kemudian historiografi Rusia, Perang Dunia II disebut sebagai Velikaya Otechestvennaya Voina (Perang Patriotik Besar).

Spesifikasi:

  • Bagian: Humaniora
  • Kategori: Sejarah
  • Sub Kategori: Sejarah
  • Penulis: Nino Oktorino
  • Editor: Chandra
  • Sampul: Erson

  • ISBN13/EAN: 9786020412313
  • SKU: 717080584
  • Harga: Rp59.800
  • Terbit: 15 Maret 2017
  • Kertas: Book Paper 60
  • Halaman: 172
  • Dimensi: 19 x 23 cm
  • Berat: 300 gram
  • Pemesanan: toko dan lokapasar

Konflik Bersejarah: Bulan Sabit dan Swastika

Sinopsis

Hingga titik tertentu, perang tersebut dikatakan telah memperkuat persatuan antara bangsa Soviet dan rezim Stalin sesudahnya. Namun, di sisi lain, rezim Komunis juga menyaksikan oposisi di dalam dan di luar negeri selama tahun-tahun peperangan itu, yang tidak tampak sebelum dan setelah Perang Dunia II.

Sebagian dari oposisi tersebut muncul akibat dari kebijakan sewenangwenang rezim Stalin. Sebagian lagi merupakan perlawanan lanjutan dari pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil akhir Perang Saudara

Rusia (1917--1923), yang telah mendirikan berbagai kelompok oposisi di pengasingan di kota-kota Eropa seperti Warsawa, Berlin, Paris dan Ankara.

Kubu oposisi ini memperoleh momentumnya ketika Hitler menyerbu Uni Soviet pada tanggal 22 Juni 1941. Tanpa menyadari tujuan kolonial Hitler di Timur, jutaan warga Soviet menyambut baik propaganda Jerman yang menjanjikan kepada mereka pembebasan dari Stalinisme. Bahkan, lebih dari satu juta orang dari warga Soviet kemudian bertugas dalam Wehrmacht. Di antara mereka terdapat

sekitar 400.000 orang Muslim Soviet.

Namun, saat Nazi memutuskan untuk merekrut para tawanan Soviet, para tawanan Muslim menyediakan basis perekrutan terbesar bagi unit-unit pekerja dan tempur ”pribumi”, termasuk barisan Ostlegion (Legiun Timur, unit-unit yang direkrut dari minoritas non-Slavia). Ketika Hitler kemudian memainkan kartu pan-Turan dan pan-Islam, kaum Muslim Soviet di Krim dan Kaukasus Utara memberikan sambutan hangat dan menyediakan ribuan pemudanya untuk bertugas dalam unit-unit keamanan Reich Ketiga dan melakukan ”tugas-tugas kotor” Nazi seperti memburu kaum partisan, melakukan ekspedisi penghukuman serta terlibat dalam aksi genosida terhadap kaum Yahudi dan Jipsi Soviet.

Apa yang dilakukan oleh kaum Muslim Soviet tersebut sangat mengherankan. Padahal, secara logika, perlakuan tidak manusiawi dan tingginya angka kematian di antara para tawanan Muslim Soviet pada

tahun 1941 seharusnya menimbulkan kebencian yang besar terhadap orang Jerman, bukannya kesediaan untuk bekerja sama, di mana sebagian dari mereka memang melakukannya. Namun, ada juga

kebencian yang amat besar terhadap rezim Stalin dan kebijakan militernya yang membawa

mereka ke jurang penderitaan. Selain itu, bergabung dengan sebuah unit tempur atau batalion pekerja Jerman juga merupakan sebuah cara untuk meloloskan diri dari neraka di kamp-kamp tawanan.

 



Produk Serupa



 

 

Lokapasar
Toko