Jika hidup ini diibaratkan dengan sebuah perjalanan, mungkin buku How We Heal akan mengajakmu untuk tidak berhenti pada trauma-trauma. Tanpa sadar, kita terjebak pada kutub yang ekstrem. Terkadang, karena terlalu takut memulai kembali, kita menghindari dan menolak segala bentuk pengalaman baru: hubungan, pembelajaran, petualangan, dsb. Rasa takut juga dibarengi rasa terlanjur nyaman, yang sering diungkapkan dengan istilah comfort zone. Trauma-trauma dalam hidup cukup sering menahan kita untuk mengeksplorasi hidup. Bahkan, kita senang berbaring di sana.
Awalnya saya beranggapan bahwa hal itu tidak benar. Tidak mungkin seseorang justru nyaman dalam trauma, karena sejatinya trauma itu selalu dihindari banyak orang. Bagi saya, menjadikan trauma sebagai tempat peristirahatan adalah pernyataan yang kontradiktif. Mungkin beberapa orang memiliki praanggapan yang sama. Akan tetapi, ketidakmungkinan itu dijelaskan secara implisit oleh Alexandra Elle dalam How We Heal.
Faktanya, ketakutan-ketakutan kita yang timbul dari pengalaman traumatis telah menahan kita. Contohnya, saya yang takut untuk berkonfrontasi karena trauma akibat konflik berkepanjangan. Akibatnya, saya mengalami hambatan untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, bahkan perasaan yang jujur dalam pekerjaan. Tanpa sadar, saya menjadikan “pengalaman trauma” sebagai tempat ternyaman saya untuk terus menghindari situasi yang tidak mengenakkan.
Dalam bukunya How We Heal, Alexandra Elle mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan memulai perjalanan penyembuhan dengan cara yang hangat, sederhana, dan membumi. Bagi Elle, penyembuhan bukanlah perjalanan yang bisa ditempuh sekali jalan. Ia tegas menuliskan bahwa jalan menuju pulih adalah proses yang berulang. Ada hari ketika kita merasa kuat, dan ada hari ketika rasa sakit kembali datang. Alih-alih menganggapnya sebagai kegagalan, ia menyebutnya bagian alami dari perjalanan. Dengan nada lembut, Elle mengingatkan bahwa tidak ada standar seragam dalam proses menuju pulih. Setiap orang menempuh jalannya sendiri dan itu sah.
Mengalibrasi Lensa Sukacita Kita
Salah satu alasan mengapa kita sulit bangkit dari trauma adalah kaburnya lensa sukacita dalam diri kita. Belum lagi, kita cenderung terburu-buru untuk sembuh. Padahal, penyembuhan bukan tentang merampungkan segalanya secara instan, tetapi tentang bagaimana kita mampu membenahi kacamata atau perspektif terhadap hidup kita sendiri.
How We Heal mendeskripsikan empat langkah praktis yang membingkai proses penyembuhan. Empat tahap proses pemulihan tersebut adalah: 1) meragukan diri dan memberi ruang untuk awal yang baru; 2) cara berteman dengan rasa takut sehingga tidak dikendalikan olehnya; 3) merebut kembali kemampuan dan potensi sekaligus menulis ulang kisah Anda dengan tujuan; dan 4) bersandar pada apa yang terasa baik (syukur dan sukacita).
Alexandra mengajak masing-masing dari kita untuk merebut kembali kegembiraan dengan beragam teknik untuk penyembuhan diri. Dengan menulis jurnal untuk menumbuhkan kekuatan, melakukan latihan untuk melepaskan beban emosional, dan meditasi untuk ketenangan pikiran dan tubuh, kita diajak pulih dan mengatur ulang cara kita memandang diri dan kehidupan.
Dari Berantakan Untuk Perbaikan
Alexandra membesarkan hati kita untuk berani memulai proses ini. Bahkan, dalam kondisi yang berantakan, kita tetap bisa meletakan fondasi yang baik untuk transformasi hidup. Selain itu, proses penyembuhan ini diyakini sebagai cara untuk berkontribusi bagi kebaikan sesama. Bayangkan, dengan mengupayakan penyembuhan bagi diri sendiri, kita juga terlibat dalam proses perbaikan garis keturunan (trauma yang diwariskan dari generasi ke generasi). Selain itu, penyembuhan diri sendiri juga dapat mulai menyembuhkan komunitas dan orang-orang di sekitar kita. Menurut Alexandra, pemulihan adalah bentuk kepedulian kita pada masyarakat.
Tak perlu takut dengan kerumitan hidup yang harus dibereskan. Penyembuhan diri adalah proses yang lambat dan sakral. Selain itu, Alexandra tak menyangkal bawa proses ini akan selalu berjalan bersama kita sepanjang usia. Oleh karena itu, How We Heal mengingatkan kita bahwa trauma tidak harus menjadi tempat peristirahatan kita. “Kita bisa merasakan, mengatasi, dan menyadari rasa sakit kita, tanpa harus berbaring dan tinggal di sana. Itulah maksud dari berjalan bersama dari proses penyembuhan.”
Segala bentuk ikatan trauma adalah sumber kesengsaraan dan kehancuran. Trauma itu tidak sehat baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain (termasuk yang menghadirkan trauma dalam hidup kita). Sementara itu, pulih menciptakan rasa kebersamaan. Dengan memilih pulih daripada trauma, kita mampu mendorong kehidupan yang baik bagi diri kita dan orang lain.
How We Heal juga memberi ruang inspirasi dengan esai dan wawancara dari wanita-wanita luar biasa: atlet, terapis, seniman, dan banyak lagi. Melalui mereka, kita juga mendapat kesaksian bahwa jurnal adalah tempat yang aman untuk menjadi berantakan dan kembali bersatu. Semoga melalui buku ini, kita tidak lagi menjadikan trauma sebagai tempat peristirahatan kita. Selamat membaca!