Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa pertanyaan bodoh sebaiknya tidak diajukan. Padahal, justru dari pertanyaan sederhana atau konyol sering lahir ide-ide brilian. Inilah inti dari berpikir lateral: berani mempertanyakan hal-hal mendasar yang sering diabaikan orang dewasa.
Dalam buku “Lateral Thinking for Every Day” karya Paul Sloane, diceritakan bagaimana sebuah pertanyaan polos dari seorang anak kecil bisa melahirkan fenomena besar di dunia literasi anak. Kisah ini menjadi bukti bahwa pertanyaan bodoh bukanlah kelemahan, melainkan sumber kreativitas.
Ketika Pertanyaan Konyol Jadi Sumber Inspirasi
Pada 1970-an, Adam Hargreaves yang berusia enam tahun bertanya pada ayahnya, “Ayah, gelitik itu terlihat seperti apa?” Pertanyaan ini mungkin terdengar konyol, tapi sang ayah, Roger Hargreaves, menjawabnya dengan menggambar karakter berbentuk bulat berwarna jingga. Gambar itu kemudian menjadi tokoh Mr. Tickle, yang melahirkan serial Mr. Men, yang terjual lebih dari 90 juta kopi di seluruh dunia.
Kisah ini menunjukkan bahwa pertanyaan yang awalnya dianggap sepele justru mampu membuka jalan bagi ide besar.
Mengapa Kita Berhenti Bertanya?
Anak-anak secara alami penuh rasa ingin tahu. Riset menunjukkan mereka bisa mengajukan hingga 73 pertanyaan per hari. Namun, seiring bertambahnya usia, jumlah pertanyaan itu menurun drastis. Orang dewasa rata-rata hanya mengajukan sekitar 20 pertanyaan sehari.
Ada beberapa alasan mengapa kita berhenti bertanya:
- Merasa sudah tahu jawabannya. Padahal dunia terus berubah, dan asumsi lama sering kali sudah tidak relevan.
- Takut terlihat bodoh atau lemah. Banyak orang menganggap bertanya menunjukkan ketidaktahuan, padahal sebaliknya, pertanyaan justru tanda kecerdasan.
- Terlalu sibuk bertindak tanpa berpikir. Akibatnya, kita bisa saja menyelesaikan masalah yang salah.
Pertanyaan Bodoh yang Melahirkan Penemuan Besar
Sejarah sains penuh dengan pertanyaan sederhana yang menghasilkan penemuan luar biasa:
- Isaac Newton bertanya, “Kenapa apel jatuh dari pohonnya?”
- Charles Darwin bertanya, “Kenapa Pulau Galapagos punya spesies berbeda?”
- Albert Einstein bertanya, “Bagaimana jika aku melaju secepat cahaya?”
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar naif, tapi justru menjadi titik awal perubahan besar dalam ilmu pengetahuan.
Pertanyaan Bodoh dalam Dunia Bisnis
Dalam bisnis, bertanya adalah cara terbaik memperdalam pemahaman. Beberapa contoh pertanyaan yang bisa menggoyahkan asumsi lama antara lain:
- Apa sebenarnya yang kita coba capai?
- Masalah apa yang benar-benar kita pecahkan untuk konsumen?
- Bagaimana jika kita hanya punya satu pelanggan?
- Bagaimana jika kita justru memiliki 10 juta pelanggan?
Pertanyaan ekstrem seperti ini sering membuka perspektif baru, melahirkan ide-ide segar, bahkan strategi inovatif yang bisa mengubah arah perusahaan.
Pertanyaan bodoh bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dipelihara. Dengan berani bertanya seperti anak-anak, kita bisa mengguncang cara berpikir lama, menemukan peluang baru, dan menghasilkan solusi kreatif. Jadi, lain kali jangan takut terlihat bodoh, karena bisa jadi dari situlah lahir ide brilian yang mengubah hidup.
Ingin mempelajari lebih banyak teknik berpikir kreatif untuk memecahkan masalah sehari-hari? Dapatkan buku “Lateral Thinking for Every Day” karya Paul Sloane di Gramedia.com, Gramedia Digital, atau toko Gramedia terdekat.
Jangan lupa ikuti juga @monety.id di Instagram dan kunjungi www.monety.id. Monety adalah platform belajar seputar bisnis, keuangan, teknologi, lifestyle, serta rekomendasi buku inspiratif untuk Milenial dan Gen Z.