Setiap orang pasti pernah mengalami menang dan kalah. Namun, disaat kita selalu siap merayakan kemenangan, kita sering kali gagal memandang kekalahan sebagai sesuatu yang juga perlu kita terima dan ambil pelajarannya.
Matt Higgins membagikan cerita tentang Michael Rubin, seorang pengusaha yang ia sebut lahir dengan bakat berbisnis. Ia sempat membuka toko alat ski saat masih duduk di sekolah menengah. Namun, meskipun ia berhasil menghasilkan pendapatan sebesar $125.000, ia segera bangkrut karena terlilit utang sebesar $100.000.
Dalam menangani hal ini, Rubin menyewa pengacara kebangkrutan dan meskipun ia terlalu muda untuk mengajukan kebangkrutan, ia berhasil menyelesaikan utang-utangnya dan menutup tokonya. Ia sempat melanjutkan kuliah, tetapi keluar setelah 6 bulan dan memulai bisnis ritel lain yang menjadi sangat sukses. Ia meluncurkan bisnis e-commerce yang kemudian ia jual ke eBay dengan $2,4 miliar.
Tidak lama kemudian ia beli kembali sebagian kecil bisnis yang tidak diinginkan eBay bernama Fanatics, suatu penyedia barang olahraga berlisensi. Ia membangun perusahaan tersebut sampai menjadi bisnis barang olahraga terbesar di dunia. Perusahaannya memiliki hak kartu dagang Major League Baseball, National Football League, dan National Basketball Associaton. Kini, Fanatics bernilai $18 miliar.
Sulit membuat semua pemilik tim bekerja sama dan berbisnis dengan satu orang. Ini karena beberapa dari mereka sangat menghargai silsilah dan itu adalah hal yang tidak dimiliki Rubin. Di sini, dia tidak hanya berhasil berurusan dengan orang-orang terkaya, tetapi juga dia menjadi salah satunya. Jadi, apa rahasianya?
Meski terus menerima penolakan demi penolakan, dia terus kembali untuk mencoba lagi. “Saya menyukai kekalahan saya,” ungkapnya. “Bagi saya, kekalahan adalah pendahulu dari kemenangan. Saya belajar darinya. Saya tumbuh karenanya.”
Rubin tidak membiarkan kekalahannya mendefinisikan dirinya. Dia mungkin gagal, tetapi dia tidak membiarkan hal tersebut membuatnya menjadi seorang yang gagal. Inilah hal paling penting yang dimiliki orang-orang yang mencapai keberhasilan besar. Pencapaian tertinggi seseorang adalah ketika mereka membiarkan kemenangan menjadi bagian dari identitasnya, lalu memperkuat kepercayaannya pada diri mereka sendiri.
Perbedaan antara kemenangan dan kegagalan adalah kita seharusnya meninggalkan kegagalan di masa lalu. Ambil saja pelajaran dari kegagalan, lalu kubur kegagalan itu dan jangan kembali lagi untuk mengenangnya. Dari sinilah kegagalan akan berlalu. Setiap kali orang-orang yang sukses ini gagal, mereka akan memperluas definisi kesuksesan mereka agar dapat mengakomodasi kegagalan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan.
“Kegagalan adalah harga yang harus dibayar untuk naik ke tingkat berikutnya.”
Dalam memproses kegagalan, buku Burn the Boats menguraikannya menjadi empat tahap:
- (Akui) saya telah gagal
- Tetapi saya bukanlah seorang yang gagal
- Saya akan menemukan apa yang ingin diajarkan oleh kegagalan tersebut
- Di lain waktu, saya akan menang
Hal ini bukan berarti kita mengabaikan kegagalan atau menghindari tanggung jawab. Kita harus punya rasa ingin tahu tentang kegagalan kita, pahami apa yang salah, dan renungkan cara untuk memperbaikinya di kesempatan berikutnya. Yang penting, jangan biarkan kegagalan mendefinisikan identitas kita.
Pelajaran dalam menghadapi kegagalan pun berkaitan dengan konsep evolusi yang dikenal sebagai loss aversion. Loss aversion merupakan kecenderungan manusia untuk memilih menghindari kerugian daripada meraih keuntungan. Kebanyakan dari kita cenderung merasa lebih buruk saat kehilangan seratus ribu daripada merasa senang ketika untung seratus ribu.
Sean Harper dari Kin yang merupakan ahli dalam mengukur risiko mengatakan, “Anda hanya bisa kehilangan apa yang Anda punya. Namun, di sisi lain, Anda bisa meraih begitu banyak hal. Tidak ada batasan untuk apa yang bisa Anda raih. Anda bisa meraih dunia.”
Berkaitan dengan itu, kita hanya perlu mengatur ulang cara kita berpikir sehingga kita lebih peduli terhadap kemenangan dibandingkan kegagalan. Pada akhirnya, inilah cara orang-orang yang mencapai kesuksesan membuat lompatan besar, bahkan setelah mengalami kegagalan di masa lalu.